Hari: 19 Mei 2025

Rabies virus: Bagaimana Virus Gila Anjing Menyerang?

Rabies virus: Bagaimana Virus Gila Anjing Menyerang?

Rabies virus, anggota genus Lyssavirus, menyerang sistem saraf pusat mamalia, termasuk manusia, menyebabkan penyakit rabies yang sangat mematikan. Virus ini umumnya ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, di mana air liur yang mengandung virus masuk ke luka.

Setelah masuk ke tubuh, Rabies virus akan bereplikasi di jaringan otot di sekitar lokasi gigitan. Kemudian, virus bergerak melalui saraf perifer menuju sistem saraf pusat, termasuk otak. Kecepatan pergerakan virus bergantung pada lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk.

Ketika mencapai otak, Rabies virus menyebabkan peradangan parah (ensefalitis). Peradangan ini mengganggu fungsi normal otak, yang menyebabkan berbagai gejala neurologis yang khas dari penyakit rabies. Gejala awal mungkin mirip flu, seperti demam, sakit kepala, dan lemas.

Seiring perkembangan penyakit, gejala yang lebih spesifik muncul, termasuk perubahan perilaku (agresif atau justru apatis), hiperaktivitas, kebingungan, halusinasi, produksi air liur berlebihan (hipersalivasi atau “berbusa”), dan kesulitan menelan (disfagia).

Salah satu gejala klasik rabies adalah hidrofobia, yaitu ketakutan ekstrem terhadap air. Hal ini terjadi karena spasme otot tenggorokan yang menyakitkan saat mencoba menelan cairan. Aerofobia, ketakutan terhadap hembusan udara, juga sering terjadi.

Setelah gejala klinis rabies yang mengerikan muncul, penyakit ini hampir selalu berujung pada kematian yang tragis. Oleh karena itu, tindakan pencegahan pasca pajanan (post-exposure prophylaxis – PEP) menjadi krusial dan harus segera dilakukan jika terjadi kontak dengan hewan yang dicurigai terinfeksi rabies. PEP meliputi langkah-langkah penting seperti pencucian luka yang menyeluruh dengan sabun dan air mengalir selama minimal 10-15 menit, diikuti dengan pemberian vaksin rabies dan rabies immunoglobulin (RIG) sesuai indikasi medis.

Pencegahan rabies secara umum melibatkan vaksinasi rutin pada hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan musang, menghindari interaksi yang tidak perlu dengan hewan liar yang berpotensi membawa virus, serta mencari pertolongan medis tanpa menunda-nunda jika mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang dicurigai rabies. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya Rabies virus dan pentingnya tindakan pencegahan yang tepat adalah kunci utama dalam melindungi diri sendiri, keluarga, dan komunitas dari ancaman penyakit yang mematikan ini.

IPB dan Unpad Jalin Kerja Sama Bangun Program Studi Kedokteran

IPB dan Unpad Jalin Kerja Sama Bangun Program Studi Kedokteran

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia kembali diwarnai oleh kolaborasi strategis antara dua universitas terkemuka. Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) telah resmi menjalin kerja sama untuk membangun Program Studi Kedokteran yang diharapkan dapat mencetak tenaga medis berkualitas dan relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, terutama di bidang-bidang spesifik yang terkait dengan pertanian dan kesehatan hewan.

Inisiatif kolaborasi ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Arif Satria, M.Agr., dan Rektor Unpad, Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., M.SIE., pada hari Rabu, 15 Mei 2024. Seremoni penandatanganan berlangsung di Gedung Rektorat IPB, disaksikan oleh jajaran pimpinan dari kedua belah pihak. Tujuan utama kerja sama ini adalah untuk menggabungkan keahlian dan sumber daya dari kedua institusi dalam mengembangkan Program Studi Kedokteran yang memiliki keunggulan komparatif.

Program Studi Kedokteran yang akan dikembangkan ini diharapkan tidak hanya fokus pada kurikulum kedokteran umum, tetapi juga mengintegrasikan perspektif kesehatan publik, kedokteran tropis, dan aspek kedokteran hewan yang relevan, mengingat keahlian utama IPB di bidang pertanian dan biosains. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan diharapkan memiliki pemahaman yang lebih holistik tentang kesehatan manusia dan lingkungan. Fasilitas pendidikan, termasuk laboratorium dan rumah sakit pendidikan, akan menjadi fokus utama dalam pengembangan program ini.

Sebagai langkah awal, tim gabungan dari IPB dan Unpad akan melakukan studi kelayakan mendalam, menyusun kurikulum, dan menyiapkan sumber daya dosen yang berkualitas. Kedua universitas akan memanfaatkan pengalaman dan jaringan masing-masing untuk memastikan Program Studi ini memenuhi standar akreditasi nasional dan internasional. Diharapkan, program ini akan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun ajaran 2026/2027, setelah semua persiapan teknis dan administratif selesai.

Kerja sama antara IPB dan Unpad dalam membangun Program Studi Kedokteran ini merupakan langkah progresif dalam memajukan pendidikan tinggi di Indonesia. Kolaborasi semacam ini tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada, tetapi juga memperkaya khazanah keilmuan kedokteran dengan perspektif multidisiplin. Pada akhirnya, ini akan berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa