Praktik lama yang sering kali dianggap sebagai tradisi namun sebenarnya merugikan adalah senioritas sekolah yang berlebihan dan tidak mendidik. Banyak yang beranggapan bahwa kepatuhan buta adik kelas kepada kakak kelas adalah bentuk penghormatan, padahal sering kali hal ini justru menjadi celah terjadinya perundungan dan intimidasi. Menghapus budaya ini bukan berarti menghilangkan rasa hormat, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat berdasarkan kerja sama dan bimbingan, bukan atas dasar ketakutan atau dominasi kekuasaan.
Salah satu alasan mengapa kita harus segera mengakhiri pola pikir ini adalah karena dampak psikologisnya yang sangat buruk bagi siswa baru. Alih-alih merasa diterima di lingkungan baru, mereka justru merasa terancam oleh tekanan senioritas sekolah yang biasanya muncul saat masa orientasi atau kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan seharusnya menciptakan rasa aman, bukan kecemasan. Ketika rasa takut mendominasi hubungan antar siswa, maka kreativitas dan kepercayaan diri siswa junior akan terhambat, yang pada akhirnya merugikan iklim akademik secara keseluruhan di institusi tersebut.
Selain itu, budaya ini sering kali melanggengkan siklus dendam yang tidak berujung dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Siswa yang pernah menjadi korban cenderung merasa berhak untuk melakukan hal yang sama kepada adik kelas mereka di masa depan sebagai bentuk “balas dendam” terselubung. Jika senioritas sekolah terus dipelihara, maka lingkungan pendidikan hanya akan menghasilkan individu-individu yang haus akan validasi kekuasaan daripada prestasi. Pemutusan rantai ini harus dimulai dari sekarang dengan kesadaran kolektif dari para siswa senior yang lebih bijaksana.
Kepemimpinan yang sejati di sekolah seharusnya ditunjukkan melalui keteladanan dan inspirasi, bukan dengan memberikan perintah yang tidak masuk akal atau sanksi fisik yang merendahkan martabat. Kakak kelas seharusnya menjadi mentor yang membantu adik kelas beradaptasi dengan sistem pembelajaran di sekolah. Dengan menghapus senioritas sekolah, kita membuka ruang bagi dialog yang lebih terbuka dan inklusif. Siswa dari berbagai tingkatan kelas dapat berkolaborasi dalam berbagai proyek sekolah tanpa ada sekat senioritas yang kaku dan menghambat ide-ide segar.
